07 Agustus 2011
Newmont versus Rakyat Jelata: Above The Law
Diposkan oleh
Alifadian Yuhaniz
di
02:29
0
komentar
Link ke posting ini
Label: Quantum Intelligence
02 Juni 2011
Jangan merendahkan Simbol-simbol Negara, Please ...
Kita smua tahu, Bapak Presiden juga manusia, bukan Superman. Jadi sangat wajar kalo mengeluhkan keadaan.
Khan sbagai simbol negara, Garuda Pancasila seharusnya menjadi ruh agar kita menjadi bangsa yang kuat dan memiliki cita-cita tinggi. Merah-Putih harusnya memancarkan keberanian dan kesucian,
Sebagai simbol negara, kepresidenan seharusnya menjadi simbol pemersatu seluruh komponen negeri, bukan untuk mengeluh, bukan pula untuk mengungkapkan adanya anak bangsa yang menjadi pengecut. Mungkin kita bisa belajar dari Soekarno, meskipun tuntutan pembubaran PKI sangat gencar namun Soekarno menggunakan lembaga kepresidennya untuk mempertahankan PKI karena walau bagaimanapun orang PKI adalah Warga Negara Indonesia.
Kalo belajar dari Soekarno udah kesulitan karena orangnya udah di alam baka, mungkin kita harus belajar pada adik-adik kita yang masih duduk di SMA ...
Adik-adik ini sedang mengerahkan segala kemampuannya untuk dapat memberikan penghormatan terbaik bagi simbol-simbol negara sebagai Paskibraka. Sedemikian keras mereka berusaha sampe-sampe ada yang pingsan,
JANGAN KITA KECEWAKAN MEREKA!!!!!!
Diposkan oleh
Alifadian Yuhaniz
di
09:41
0
komentar
Link ke posting ini
Label: Humane Education, News in Deep Quantum
15 Mei 2011
Perencanaan Pembangunan Karakter Bangsa ... bingung neh ....
......
.........
Diposkan oleh
Alifadian Yuhaniz
di
14:55
1 komentar
Link ke posting ini
Label: Consulting
10 Mei 2011
Proses Pembobrokan Karakter Bangsa
Masyarakat Indonesia mendapatkan pelayanan sewenang-wenang dari berbagai pihak. Dari dibohongi pulsa telpon, tauladan buruk sinetron, sampai perilaku yang tidak bertanggung jawab. Perilaku sewenang-wenang itu terus tumbuh tapi masyarakat Indonesia terkesan diam saja alias engga protest ataupun menuntut secara hukum. Paling cuman satu dua aja yang protes dan tidak menimbulkan efek yang luas.
Tapi benarkah masyarakat Indonesia diam saja? Tidak! Dalam diam itu masyarakat kita meniru tindakan bohong, perilaku sinetron hingga perilaku tak bertanggung jawab. Akhirnya, jadilah kita bangsa berkarakter buruk!
Kita ambil contoh PLN. Udah berapa banyak masyarakat yang dirugikan oleh pelayanan PLN selama bertahun-tahun? Tak terhitung. Apakah ada bentuk tanggung jawab PLN terhadap kerugian masyarakat? Tidak ada, seakan PLN tidak berkewajiban untuk bertanggung jawab atas kerugian yang ia timbulkan. Tapi gimana jika hak PLN mendapatkan iuran listrik mengalami keterlambatan? PLN akan memutus aliran listrik.
Nah, sekarang kita lihat perilaku masyarakat kita. Berapa banyak masyarakat kita yang banyak melalaikan kewajiban tapi banyak menuntut hak? Berapa banyak penumpang angkutan umum yang ikut merasa bertanggung jawab atas kebersihan terminal?
Selama berbagai bentuk praktek perilaku buruk itu berlangsung, pembangunan karakter akan mengalami tantangan berat. Satu satunya jalan adalah dengan membangun sistem pembangunan karakter yang dapat memunculkan kesadaran dari dalam diri pribadi masing-masing generasi bangsa, bukan cuman dari ceramah atau pemaksaan peraturan.
Diposkan oleh
Alifadian Yuhaniz
di
14:46
0
komentar
Link ke posting ini
Label: Consulting, Quantum Planning
19 Maret 2011
Pemanfaatan Terror Secara Tidak Langsung
Udah banyak yang kasih analisis tentang kejadian terror bom belakangan ini. Mengingat aksi terror bom adalah misi konspirasi intelejen maka disorientasi menjadi sangat dominan, tak ayal lagi analisis pun beraneka ragam. Untuk mengetahui apa sesungguhnya terror bom tersebut maka diperlukan analsis intelejen pula, bukan analisis metode ilmiah yang diajarkan di sekolah-sekolah.
Teror bom di Indonesia akhir-akhir ini dikategorikan sebagai konspirasi karena tidak ada satupun pihak yang mengaku bertanggung jawab atas terror tersebut. Pada awal-awal aksi terrorisme muncul di muka bumi, para pelaku terror akan mengklaim bahwa merekalah yang berada dibalik aksi terror kemudian menyampaikan beberapa tuntutan. Dengan kata lain, para teroris memanfaatkan dampak langsung dari serangan terror.
Aksi terror juga dimanfaatkan mencapai tujuan secara tidak langsung. Sepanjang pengetahuan, pemanfaatan secara tidak langsung umumnya dilakukan oleh pihak negara untuk mencapai tujuan tertentu. Bagaimana negara menggunakan aksi terror? Menjelang Perang Dunia I, Sekretaris Negara AS William Jennings mencatat: Banyak para bankir yang tertarik dengan perang karena keuntungan yang diperoleh akan sangat besar. Selanjutnya dalam pembicaraan yang terdokumentasi antara Staf Ahli Presiden Woodrow Wilson yaitu Kolonel Edward House dengan Menteri Luar Negeri Inggris Sir Edward Grey, disimpulkan bahwa jika ada kapal sipil Amerika ditenggelamkan oleh Jerman maka rakyat AS akan menghendaki perang. Sehingga pada tanggal 15 Mei 1915 Kapal Pesiar AS Lusitania diperintahkan untuk memasuki perairan yang dikuasai Jerman. Angkatan Laut Jerman menenggelamkan kapal tersebut menewaskan 1200 penumpangnya, kemudian AS pun mulai terlibat dalam Perang Dunia I.
Begitulah konspirasi terror yang dilakukan oleh negara akibat ulah para bankir. Sebanyak 232.000 orang AS tewas dalam Perang Dunia I. JD Rockefeller mengeruk keuntungan sampai dengan 200 juta dolar. Pemerinta Amerika dililit utang sebesar 30 Milyar dolar.
Apakah kejadian yang memicu AS terlibat Perang Dunia I adalah kebetulan belaka? Jika memang kebetulan maka konspirasi terror di atas tidak akan berulang pada Perang Dunia II. Henry Stimson, Menteri Angkatan Perang AS pada tanggal 25 November 1941 membuat cacatan jurnal tentang percakapan Presiden Roosevelt yang membahas bagaimana cara memancing pihak Jepang untuk mulai menyerang Amerika. Kemudian berbagai cara diterapkan oleh Roosevelt demi memancing Jepang, contohnya seperti pembekuan aset-aset Jepang di AS. Dan beberapa hari sebelum serangan ke Pearl Harbor, Intelejen Australia memperingatkan adanya pergerakan pasukan Jepang menuju Pearl Harbor. Peringatan itu tidak dihiraukan sehingga 7 Desember 1941 Pearl Harbor diserbu Jepang menewaskan 2.400 tentara Amerika.
Sebelum penyerbuan Pearl Harbor, 83% rakyat Amerika tidak menghendaki perang. Setelah penyerbuan, satu juta relawan Amerika mendaftar untuk terjun ke Perang Dunia II. Padahal pesawat-pesawat Jerman yang membunuh tentara Amerika takkan bisa terbang tanpa bahan bakar yang disuplay oleh perusahan dari Amerika sendiri, Standart Oil. Transaksi suplai bahan bakar pesawat ini dikelola oleh organisasi Union Banking Corp. yang bermarkas di New York dan dipimpin oleh Prescott Bush yang tak lain adalah kakek dari mantan Presiden George W Bush.
Apakah konspirasi terror negara cuma pada Perang Dunia I dan II? Pada tahun 1964 dikabarkan dua kapal perusak Amerika diserang oleh Vietnam Utara di Teluk Tonkin. Dengan alasan inilah Amerika terlibat dalam perang Vietnam. Namun beberapa tahun kemudian, mantan Menteri Pertahanan McNamara menyatakan bahwa serangan di Teluk Tonkin adalah suatu kesalahan. Disusul pernyataan beberapa mantan perwira yang menyatakan bahwa serangan di Teluk Tonkin adalah kebohongan yang ditujukan agar Amerika terjun ke Perang Vietnam. Insiden Teluk Tonkin sebenarnya tidak pernah ada!
Mengapa Amerika dipancing terjun perang di Vietnam? Seperti yang sudah-sudah, alasan bisnis. Rockefeller membiayai pabrik-pabrik senjata di Rusia untuk mensuplai senjata pada pihak Vietnam Utara. Pihak perbankan menjadi jalan tol mulus untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari perang. Keterlibatan perbankan mengeruk keuntungan juga dapat ditemukan dalam Perang Korea, Perang Irak-Iran, Perang Mujahidin Afghanistan dan perang-perang lain.
Pada tahun 2000, hampir tidak ada peperangan yang berarti hingga peristiwa 11 September menjadi pemicu perang besar di Afghanistan dan Irak. Dan tentu dunia sudah mahfum siapa sesungguhnya yang berada dibalik peristiwa 11 September. Di tahun 2011, aksi Revousi Jasmine berlangsung damai di negara-negara sekutu AS tapi menjadi pertumpahan darah di negara yang bukan sekutu seperti Libya. Sehingga melegalkan Angkatan Udara sekutu membombardir Libya. Apakah demokrasi memang harus dibentuk dengan pengeboman dan kematian?
Kembali ke Indonesia, apa tujuan terror bom yang dilancarkan akhir-akhir ini? Jika terror ini sengaja dilancarkan untuk mencapai tujuan tertentu secara tidak langsung, apakah merupakan jenis terror para bankir seperti terror-terror di atas? Mengingat Indonesia memiliki kasus perbankan yang tidak terselesaikan hingga saat ini, yaitu Kasus Century.
Hingga saat ini, terror bom di Indonesia baru memakan korban satu perwira polisi. Masih jauh lebih kecil dibanding 2.400 tentara Amerika yang dibiarkan tewas oleh pemerintahnya di Pearl Harbor, ataupun 232.000 tentara Amerika yang dikirimkan untuk tewas pada Perang Dunia I. Akankah kita harus berkorban lebih banyak?
Diposkan oleh
Alifadian Yuhaniz
di
22:10
0
komentar
Link ke posting ini
Label: Quantum Intelligence


